“Ya tentu. Dalam catatan kami, inflasi itu salah satunya dikontribusikan oleh harga cabai,” kata Bima saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jumat (11/4/2025).
Ia pun menyebut, penyebab utama kenaikan harga cabai biasanya dipicu oleh faktor cuaca. “Gagal panen karena cuaca, atau faktor distribusinya,” tambahnya.
Menurut data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per hari ini, harga rata-rata nasional cabai rawit merah telah mencapai Rp81.471 per kilogram (kg). Angka ini jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp40.000-Rp57.000 per kg. HAP cabai ditetapkan dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Kedelai, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabai Rawit Merah, Cabai Merah Keriting, Gula Konsumsi, dan Daging Sapi/Kerbau.
Adapun disparitas harga cabai rawit hari ini dengan HAP mencapai 42,93%.
Di beberapa daerah, kondisi ini bahkan lebih parah. Di Kalimantan Tengah, harga cabai rawit merah tembus Rp116.974 per kg, atau naik 105,22% dibandingkan HAP.
Melihat situasi ini, Bima menekankan pentingnya peran kepala daerah dalam merespons cepat gejolak harga pangan di wilayahnya.
“Kami mendorong para Kepala Daerah untuk saling berkomunikasi dengan daerah-daerah champion untuk menutupi kebutuhannya,” ujar Bima.
Daerah champion yang dimaksud adalah daerah-daerah sentra produksi cabai yang memiliki kelebihan pasokan, sehingga bisa menyuplai daerah lain yang kekurangan.
Selain itu, Bima juga menyebut langkah-langkah lain seperti urban farming sebagai solusi jangka menengah. “Yang lain adalah urban farming, menanam cabai, dan lain-lain,” katanya.
Kemendagri juga meminta para kepala daerah aktif melakukan operasi pasar.
“Kami minta para kepala daerah untuk memantau di situ supaya bisa mengambil langkah-langkah cepat, ya, bagaimana menyediakan suplai komoditas-komoditas yang tadi sulit tadi,” cetus Bima.
Sebagai informasi, Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M Habibullah mengungkapkan, laju inflasi bulanan pada Maret 2025 mencapai 1,65%. Sementara itu, inflasi tahunannya mencapai 0,39% secara tahun kalender.
BPS juga mencatat terjadi inflasi secara tahunan sebesar 1,03% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,22.
“Maret inflasi lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan Maret 2025 kelompok penyumbang perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 1,18%,” kata Habibullah dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Secara rinci, Habibullah mengatakan komoditas dominan yang memicu inflasi adalah tarif listrik mencapai 1,18%, kemudian bawang merah 0,11%, cabai rawit 0,06%, emas perhiasan 0,05% dan daging ayam ras 0,03%.
Keputusan mendadak ini memicu lonjakan tajam di pasar saham global yang sebelumnya babak belur akibat ketidakpastian ekonomi, meskipun eskalasi perang dagang dengan China justru diperparah. Langkah tersebut datang di tengah kekacauan keuangan terbesar sejak masa-masa awal pandemi Covid-19.
Pasar saham global anjlok, obligasi pemerintah AS mengalami lonjakan imbal hasil yang mengkhawatirkan, dan ketegangan geopolitik meningkat. Namun hanya beberapa jam setelah tarif-tarif tersebut diberlakukan, Trump berbalik arah dan menekan tombol “jeda” selama 90 hari untuk sebagian besar negara mitra dagang-dengan pengecualian penting: China.
“Saya pikir orang-orang terlalu reaktif, mereka mulai panik, seperti atlet yang gugup,” ujar Trump kepada wartawan, menggunakan istilah “yippy” yang biasanya digunakan dalam dunia olahraga untuk menggambarkan kegugupan berlebihan, sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (10/4/2025).
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump secara rutin mengancam berbagai tarif terhadap mitra dagang AS, namun sering pula mencabut ancaman tersebut di detik-detik terakhir. Pola zig-zag ini membuat para pemimpin dunia kebingungan dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pebisnis global.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim bahwa penangguhan ini sebenarnya sudah direncanakan dari awal sebagai strategi untuk memaksa negara-negara lain datang ke meja perundingan. Namun Trump sendiri kemudian mengisyaratkan bahwa kekacauan pasar yang terjadi sejak pengumumannya pada 2 April turut mempengaruhi keputusannya.
“Dalam negosiasi, Anda harus fleksibel,” ujar Trump, menepis klaim sebelumnya bahwa kebijakan tarifnya tak akan berubah.
China Lawan Utama
Meski melunak terhadap negara lain, Trump justru memperkeras sikap terhadap China. Setelah tarif 104% terhadap produk China mulai berlaku pada Rabu, ia langsung menaikkannya menjadi 125%. China membalas dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84% terhadap produk asal AS dan berjanji akan “berjuang sampai akhir” dalam perang dagang ini.
“AS dan China sedang memainkan permainan brinkmanship [politik tepi jurang],” kata Chris Turner, Kepala Pasar Global ING, merujuk pada strategi saling tekan di ambang konflik.
Akibatnya, perusahaan-perusahaan China yang menjual produk melalui Amazon mulai menaikkan harga atau bahkan mempertimbangkan keluar dari pasar AS, menurut ketua asosiasi e-commerce terbesar di China.
Meski Trump menyiratkan bahwa kesepakatan dengan China masih memungkinkan, pejabat Gedung Putih mengatakan prioritas saat ini adalah menjalin perjanjian dengan negara lain terlebih dahulu. “China ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump. “Mereka hanya belum tahu caranya.”
Adapun China dilaporkan mulai membuka dialog dagang dengan Uni Eropa dan Malaysia untuk memperkuat kerja sama regional. Namun tidak semua negara bersedia ikut dalam orbit Beijing.
Australia, misalnya, menolak tawaran China untuk bekerja sama dalam menghadapi tarif AS.
“Kami tidak akan bergandengan tangan dengan China dalam konflik global ini,” ujar Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles.
Ketegangan terkait Panama ini awalnya terjadi dari pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang mengatakan pada Selasa (8/4/2025) bahwa Terusan Panama menghadapi ancaman berkelanjutan dari China. Meski begitu, AS dan Panama bersama-sama akan menjaganya tetap aman.
“Untuk tujuan ini, AS dan Panama telah berbuat lebih banyak dalam beberapa minggu terakhir untuk memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan kita daripada yang telah kita lakukan dalam beberapa dekade,” katanya dalam sebuah kunjungan ke Panama.
Hegseth menyinggung pelabuhan di kedua ujung kanal yang dikendalikan oleh konsorsium Hong Kong, yang sedang dalam proses menjual saham pengendalinya ke konsorsium lain termasuk BlackRock Inc..
“Perusahaan-perusahaan yang berbasis di China terus mengendalikan infrastruktur penting di area kanal,” tutur Hegseth.
“Itu memberi China potensi untuk melakukan kegiatan pengawasan di seluruh Panama. Ini membuat Panama dan ASkurang aman, kurang makmur, dan kurang berdaulat. Dan seperti yang telah ditunjukkan oleh Presiden Donald Trump, situasi itu tidak dapat diterima.”
Kunjungan tersebut dilakukan di tengah ketegangan atas pernyataan berulang Donald Trump bahwa AS dikenai biaya berlebihan untuk menggunakan Terusan Panama dan bahwa China memiliki pengaruh atas operasinya. Namun tuduhan ini telah secara konsisten dibantah Panama.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, Kedutaan Besar China di Panama mengecam pemerintah AS dalam sebuah pernyataan di X. Mereka mengatakan bahwa AS telah menggunakan pemerasan untuk memajukan kepentingannya sendiri dan bahwa dengan siapa Panama berbisnis merupakan keputusan kedaulatan Panama dan sesuatu yang tidak berhak diintervensi AS.
“AS telah melakukan kampanye sensasional tentang ‘ancaman teoretis China’ dalam upaya menyabotase kerja sama China-Panama, yang semuanya berakar pada kepentingan geopolitik AS sendiri,” tulis kedutaan tersebut.
Ketegangan terbaru ini terjadi saat hubungan Washington dan Beijing memanas. Pekan lalu, Presiden Trump menjatuhkan tarif impor resiprokal ke semua negara, dengan China terkena tarif yang tertinggi hingga 54%.
China pun membalas dengan menjatuhkan tarif 34% atas barang AS. Namun, bukannya bergeming, AS justru kembali menjatuhkan tarif dua kali lipat terhadap China, hingga 104%.
Dia mengakui bahwa penerimaan pajak pada Januari dan Februari mengalami penurunan. Namun, penurunan tersebut berangsur membaik dan bahkan berbalik positif pada Maret 2025.
“Penerimaan pajak pertumbuhan Januari -13%, Februari -4%, dan Maret plus 9,1%,” kata Sri Mulyani dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Dalam kesempatan ini, dia pun mengungkapkan alasan mengapa dirinya dan jajaran Kementerian Keuangan menunda konferensi pers APBN KiTa pada bulan Januari dan memilih memaparkan data bulanan tersebut pada Februari 2025.
“Kenapa kami menunda press conference karena datanya masih dinamis, sehingga tidak ingin mengakibatkan kepanikan market,” Sri Mulyani.
Sri Mulyani memastikan, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun ini tidak akan jebol atau merangkak naik di atas 3%. Hal ini tidak akan terjadi karena program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto sangat banyak, di tengah penerimaan negara yang harus menghadapi tantangan, akibat tekanan ekonomi di tingkat global.
“Jadi jangan khawatir, tidak jebol APBN nya,” kata Sri Mulyani.
“Kemudian kami sampaikan ada yang menarik dari Bulog. Ini setelah ada pergantian. Pergantian direksi dan pinwil. Ada 5 pinwil kalau tidak salah, kita ganti. Ini peningkatan serapan itu 2000 persen,” ujar Amran saat Panen Raya Padi Serentak di 14 Provinsi bersama Presiden Prabowo, Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025).
“Jadi bukan 200- (tapi) 2000 persen. Per jam tadi Pak Wamentan itu 800 ribu ton. Yang dulu hanya 35 ribu ton. Ini peningkatan spektakuler berkat kerja kerasnya teman-teman, terutama komisaris utamanya Pak Wamentan,” lanjutnya.
Amran melaporkan kepada Presiden Prabowo, bahwa gudang, stok gudang sekarang 2,4 juta ton. Dan diperkirakan akhir bulan ini akan mencapai 3 juta ton. Ia menyebut angka ini tertinggi selama dalam 20 tahun.
Bapak Presiden yang kami hormati, gudang, stok gudang sekarang 2,4 juta ton.
“Tertinggi selama 10-20 tahun, kalau tidak salah laporan tadi. Tertinggi stok kita di gudang,” ujar Amran.
Februari lalu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Erick Thohir telah melakukan pergantian Direksi Perum BULOG dan menetapkan Mayor Jenderal TNI Novi Helmy Prasetya sebagai Direktur Utama Perum BULOG.
Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-30/MBU/02/2025 tanggal 7 Februari 2025, yang mengakhiri pengabdian Wahyu Suparyono sebagai Direktur Utama dan Iryanto Hutagaol sebagai Direktur Keuangan Perum BULOG.
Novi sebelumnya menjabat sebagai Asisten Teritorial Panglima TNI. Ia akan memulai masa baktinya sebagai Direktur Utama bersama dengan Direktur Keuangan Hendra Susanto. Hendra sebelumnya adalah Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.
Selain Direksi, Jajaran Dewan Pengawas Perum BULOG juga mengalami perombakan yang mengakhiri Wicipto Setiadi sebagai Dewan Pengawas diganti dengan Verdianto Iskandar Bitticaca adalah seorang Purnawirawan Polri yang terakhir mengemban amanat sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi.
Untuk menghadapi lonjakan penumpang pada periode tersebut, PELNI telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna memastikan kelancaran operasional.
Sekretaris Perusahaan PELNI, Evan Eryanto menyebut, pada puncak arus balik besok, diperkirakan jumlah penumpang mencapai lebih dari 25 ribu orang.
“Sejak arus balik dimulai H+1 (2/4/2025), jumlah penumpang yang cukup tinggi terjadi pada H+3 di angka 25.430 orang. Jika benar besok akan menjadi puncak arus balik, maka angkanya akan melebihi perjalanan 4 April kemarin,” ujar Evan dalam keterangan pers, dikutip Minggu (6/4/2025).
Per siang hari ini, jumlah tiket kapal PELNI yang sudah terjual untuk perjalanan Senin besok sudah mencapai 21.410 tiket.
Dalam menghadapi arus balik, PELNI memastikan seluruh armada kapal dalam kondisi laik laut. Berbagai fasilitas juga telah disediakan untuk memberi kenyamanan bagi para penumpang kapal PELNI, seperti wifi komersial, layanan tv channel, restoran, klinik, hingga mini theater.
Bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan arus balik, Evan menghimbau untuk calon penumpang yang sudah memiliki tiket agar dapat melakukan check-in melalui aplikasi PELNI Mobile untuk menghindari kepadatan saat proses boarding di pelabuhan.
Selain itu, Evan juga mengingatkan agar calon penumpang membawa dokumen identitas valid sesuai dengan orang yang akan berangkat.
“Kami terus berkomitmen memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh penumpang kapal PELNI. Petugas kami akan standby 24 jam untuk menjaga kebersihan kabin, toilet dan area umum serta memberikan bantuan kepada penumpang yang membutuhkan, seperti lansia, ibu hamil atau anak-anak,” ungkap Evan.
PELNI juga menyediakan posko mudik di tiga pelabuhan yaitu Bau-Bau, Batam dan Semarang. Posko ini dilengkapi dengan layanan cek kesehatan dan pijat gratis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, baik penumpang maupun non-penumpang selama periode mudik berlangsung.
Adapun lima ruas terpadat yang dilayani kapal penumpang PELNI selama arus balik Lebaran berdasarkan data per 2 s.d. 6 April 2025, yaitu rute Medan – Batam (11.880), disusul Bau-Bau – Makassar (5.912), Batam – Medan (5.132), Semarang – Kumai (4.971) dan Makassar – Surabaya (4.487).
Untuk lima pelabuhan keberangkatan terpadat adalah sebagai berikut:
1. Makassar (20.081)
2. Bau-Bau (17.265)
3. Surabaya (16.298)
4. Ambon (15.624)
5. Medan (11.880)
Sementara itu, lima pelabuhan tujuan terpadat antara lain:
1. Makassar (21.951)
2. Surabaya (14.535)
3. Batam (14.006)
4. Balikpapan (13.655)
5. Bau-Bau (11.620)
Untuk menghadirkan Mudik Tenang dan Menyenangkan sebagaimana harapan Pemerintah dan Kementerian BUMN, pelanggan kapal PELNI sudah dapat memanfaatkan saluran digital seperti aplikasi PELNI Mobile ataupun website resmi PELNI.
Tiket kapal PELNI juga dapat diperoleh di berbagai aplikasi perbankan, jaringan minimarket, dan aplikasi agen perjalanan. Pembayaran tiket PELNI juga dapat dilakukan di berbagai aplikasi perbankan dan pembayaran digital lainnya.
Bagi yang menerima THR, engalokasikan dan mengelola dana dengan bijak menjadi suatu tantangan tersendiri, apalagi di kondisi ekonomi yang sedang tak menentu saat ini.
Lebaran tahun ini diawali dengan daya beli masyarakat yang lemah, bahkan selama dua bulan beruntun kita mengalami deflasi (month to month/mtm) pada Januari dan Februari 2025. Secara tahunan (year on year/yoy), Februari juga mengalami deflasi sebesar 0,09%.
Deflasi secara tahunan bahkan pertama kali terjadi lagi sejak 25 tahun. Ditambah tekanan defisit fiskal, laju penurunan suku bunga terhambat yang membuat efek suku bunga masih terasa, mata uang terdepresiasi, sampai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus terjadi.
Dari global, tantangan juga masih berlanjut, seperti Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang kembali berulah dengan menetapkan tarif balas dendam ke 160 negara, termasuk Indonesia.
Hal itu potensi menekan laju inflasi dunia lebih panas dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi hingga menyebabkan resesi.
Banyaknya ketidakpastian saat ini membuat kita harus lebih bijak dalam mengelola keuangan, baik dalam hal menabung, investasi, sampai pengeluaran.
Di sini ada beberapa tips yang bisa kita lakukan agar kita bisa menabung sampai mengalokasikan investasi dengan cara yang lebih bijak :
1. First Thing First : Mindset Sisihkan, Jangan Sisakan!
Mindset adalah fondasi utama dalam mencapai kesuksesan, dan salah satu pola pikir yang harus diterapkan adalah mendahulukan yang penting. Dalam hal keuangan, misalnya, banyak orang memiliki kebiasaan menggunakan uang untuk berbagai keperluan terlebih dahulu, lalu menyisihkan sisanya untuk tabungan.
Padahal, cara yang lebih bijak adalah dengan menyisihkan tabungan dan investasi di awal sebelum menggunakan uang untuk kebutuhan lain. Dengan mindset “sisihkan, jangan sisakan,” kita membentuk disiplin finansial yang lebih kuat dan memastikan bahwa tujuan jangka panjang tetap tercapai tanpa terganggu oleh pengeluaran yang tidak terencana.
2. Sesuaikan aset investasi dengan risiko toleransi
Berikutnya, adalah sesuaikan aset investasi yang mau kita alokasikan dari sebagian dana atau tabungan kita dengan risiko toleransi yang kita punya.
Toleransi risiko mengacu pada sejauh mana seorang investor siap menghadapi fluktuasi pasar dan potensi kerugian dalam portofolio investasinya.
Beberapa faktor yang memengaruhi toleransi risiko antara lain usia, tujuan keuangan, pendapatan, pengalaman investasi, serta kondisi psikologis dalam menghadapi ketidakpastian pasar.
Investor yang masih muda biasanya memiliki toleransi risiko lebih tinggi karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk memulihkan kerugian dibandingkan dengan mereka yang mendekati masa pensiun.
Selain itu, seseorang yang memiliki penghasilan stabil dan aset yang cukup cenderung lebih berani mengambil risiko dibandingkan mereka yang memiliki tanggungan besar atau penghasilan tidak tetap.
Bagi mereka yang memiliki toleransi risiko rendah atau konservatif, instrumen seperti emas, deposito, obligasi pemerintah, dan reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan karena cenderung lebih stabil dengan risiko minimal.
Investor dengan toleransi risiko menengah atau intermediate bisa mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap, obligasi korporasi, atau saham dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan (blue chip stocks).
Sementara itu, bagi investor dengan toleransi risiko tinggi atau agresif, aset seperti saham, cryptocurrency, atau properti dapat memberikan potensi keuntungan besar meskipun memiliki volatilitas tinggi.
3. Selalu Cicil Beli! Jangan All In
Di kondisi pasar yang sedang tidak tentu saat ini, strategi beli investasi saat ini lebih disarankan untuk cicil beli, atau lebih dikenal dengan metode dollar-cost averaging (DCA).
Namun, perlu dicatat, di kondisi saat ini, beli dengan metode DCA, akan lebih efektif di combine dengan analisis teknikal, supaya kita dapat momentum harga beli yang lebih tepat untuk mengoptimalkan peluang cuan.
Dengan cara ini, risiko akibat volatilitas pasar dapat dikurangi karena investor tidak terpaku pada satu harga beli tertentu. Misalnya, jika seseorang ingin berinvestasi di saham atau reksa dana, membelinya secara bertahap akan membantu mendapatkan harga rata-rata yang lebih stabil dibandingkan membeli semuanya saat pasar sedang tinggi atau rendah.
Sebaliknya, strategi all-in sangat berisiko karena tidak ada yang bisa memprediksi pergerakan pasar dengan pasti. Jika seorang investor mengalokasikan seluruh dananya sekaligus dan pasar tiba-tiba mengalami penurunan tajam, nilai investasinya bisa anjlok dalam sekejap. Namun, dengan mencicil pembelian, investor tetap memiliki fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang harga murah saat pasar sedang turun, sekaligus menghindari tekanan psikologis akibat volatilitas tinggi.
Oleh karena itu, strategi “Selalu Cicil Beli! Jangan All In” adalah cara cerdas untuk mengelola risiko dan membangun portofolio investasi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Dalam konsep investasi, peribahasa ini menekankan pentingnya diversifikasi, yaitu menyebarkan investasi ke berbagai aset atau instrumen keuangan untuk mengurangi risiko kerugian.
Jika seluruh modal hanya ditempatkan dalam satu jenis investasi, seperti saham dari satu perusahaan, maka ketika perusahaan tersebut mengalami penurunan nilai, seluruh investasi bisa ikut merugi. Sebaliknya, dengan membagi investasi ke berbagai sektor, kelas aset, atau wilayah geografis, kerugian pada satu area dapat diimbangi dengan keuntungan dari area lainnya.
Diversifikasi juga membantu investor menghadapi ketidakpastian pasar. Misalnya, selain berinvestasi di saham, seseorang bisa mengalokasikan dananya ke obligasi, properti, atau aset lain yang memiliki tingkat risiko berbeda.
Dengan strategi ini, portofolio investasi menjadi lebih stabil dan potensi pertumbuhan jangka panjang lebih terjamin. Inilah sebabnya mengapa investor sukses seperti Warren Buffett selalu menyarankan untuk tidak menaruh seluruh modal dalam satu keranjang, melainkan menyebarkannya secara strategis.
Dalam lanskap bisnis yang terus berubah saat ini, berbagai organisasi di Asia Pasifik dan seluruh dunia menghadapi keputusan yang sangat penting: apakah mereka harus memodernisasi aplikasi enterprise dengan melakukan migrasi dari mesin virtual ke kontainer. Meskipun banyak organisasi hanya berfokus pada investasi infrastruktur sebagai solusi, tantangan sebenarnya terletak pada keselarasan strategis.
Arsitektur berbasis kontainer menawarkan keuntungan yang jelas untuk aplikasi-aplikasi baru dan beban kerja saat ini yang sesuai, namun banyak perusahaan mengalami kesulitan dalam melakukan transisi ini. Masalah utamanya berasal dari para pemimpin IT yang memandang lingkungan mereka sebagai sistem yang terfragmentasi, yakni memperlakukan pusat data lokal (on-premise), penyedia cloud, dan komputasi edgesebagai entitas terpisah bukannya ekosistem yang saling terhubung.
Keberhasilan dalam lingkungan hybrid multi-cloud membutuhkan infrastruktur yang cukup fleksibel untuk mendukung mesin virtual (VM) dan kontainer, sekaligus bisa mendukung kontainerisasi secara bertahap jika dianggap bermanfaat. Tujuannya bukan hanya menerapkan tools, tetapi menciptakan arsitektur yang bisa beradaptasi dengan kemampuan mengurangi kompleksitas dan memenuhi kebutuhan aplikasi-aplikasi modern.
Membongkar Tantangan Migrasi Aplikasi
Ketika berbagai organisasi berusaha untuk menyeimbangkan keamanan dan inovasi, aplikasi dan pergerakan data tetap menjadi tantangan yang kompleks. Kompleksitas ini sangat terlihat jelas ketika sebuah perusahaan mencoba menerapkan teknologi-teknologi yang tengah berkembang seperti AI generatif (GenAI). Laporan 2025 Enterprise Cloud Index kami mengungkapkan bahwa hampir semua responden di dunia menghadapi tantangan terkait peningkatan beban kerja GenAI dari pengembangan hingga produksi, di mana integrasi infrastruktur IT muncul sebagai tantangan utama.
Pada tingkat makro, banyak pemimpin bisnis berharap migrasi aplikasi berjalan relatif mudah, meski ada sedikit ketidaknyamanan. Namun rangkaian kompleksitasnya ternyata semakin dalam. Banyak sistem lama, aplikasi-aplikasi perusahaan yang dibuat khusus, dan software pihak ketiga, yang pada dasarnya tidak didesain dengan mempertimbangkan komputasi cloud di masa depan. Sistem-sistem ini seringkali hadir dengan tingkat ketergantungan yang sangat ketat dan memiliki persyaratan infrastruktur yang spesifik agar persyaratan regulasi dan data bisa terpenuhi. Hal ini mempersulit proses migrasi aplikasi.
Kompleksitas ini muncul secara berbeda-beda untuk berbagai jenis aplikasi. Untuk aplikasi-aplikasi baru, sebuah organisasi berpeluang untuk mendesain aplikasi ini dengan mempertimbangkan prinsip cloud-native dan kontainerisasi sejak awal. Namun, aplikasi enterprise yang sudah ada, terutama yang memiliki ketergantungan atau persyaratan regulasi yang rumit, mungkin lebih baik dioperasikan dengan tetap berada di lingkungan VM mereka saat ini, karena jika memaksakan untuk migrasi ke kontainerakan memberi lebih banyak risiko daripada manfaat.
Optimalisasi biaya adalah masalah lainnya. Penyedia layanan cloud, terutama hyperscalers, memiliki model penetapan harga yang rumit dan proyek migrasi akan selalu memunculkan biaya-biaya tersembunyi. Biaya untuk keluar masuk data di platform cloud (data egress), penyimpanan, bandwidth jaringan, dan layanan lainnya, bisa meningkat secara cepat, sehingga sulit untuk memperkirakan dan mengelola belanja cloud secara akurat. Akibatnya, perusahaan-perusahaan cenderung memiliki sumber daya cloud berlebih atau tidak bisa sepenuhnya memanfaatkan sumber daya cloudmereka. Tanpa tool pemantauan cloud dan manajemen biaya yang tepat, sebuah perusahaan mungkin mengalokasikan sumber daya cloud yang lebih besar dari kebutuhan atau gagal memanfaatkan infrastruktur cloud mereka secara maksimal. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengeluaran yang tidak perlu dan pemborosan.
Oleh karena itu, berbagai organisasi merasa bimbang ketika ingin melakukan migrasi aplikasi-aplikasi yang kompleks. Kelambanan serta kurangnya insentif untuk menuntaskan proses migrasi aplikasi perusahaan merupakan perpaduan yang kuat. Hal ini memunculkan kompleksitas teknis, tekanan biaya, dan kekakuan budaya yang lebih besar.
Jalan ke Depan: Framework IT Modular
Melalui pendekatan migrasi aplikasi dengan menggunakan framework IT modular, perusahaan-perusahaan dapat menyelaraskan sistem IT mereka dengan tujuan bisnis yang lebih luas namun tetap mempertahankan fleksibilitas untuk berbagai jenis beban kerja yang berbeda. Tujuannya strategis: memecah kompleksitas jika dirasa bermanfaat sekaligus menghindari risiko migrasi yang tidak perlu. Untuk aplikasi baru dan aplikasi yang cocok untuk dimodernisasi, hal ini berarti memanfaatkan microservices dan kontainerisasi melalui solusi Kubernetes kelas enterprise. Agar aplikasi-aplikasi lama yang stabil bisa bekerja dengan baik di VM, hal ini berarti mempertahankan infrastruktur tersebut sambil memastikan bisa berintegrasi secara mulus dengan sistem-sistem baru yang berbasis kontainer.
Arsitektur microservices mengubah aplikasi monolitik menjadi sistem yang lebih fleksibel dan scalable. Microservices memecah sebuah aplikasi menjadi layanan-layanan yang lebih kecil dan independen, yang bisa dikembangkan, digunakan, dan ditingkatkan secara terpisah. Dengan pemisahan ini tim IT dapat fokus pada masing-masing komponen tanpa mempengaruhi aplikasi secara keseluruhan, sehingga memastikan akan ada lebih sedikit gangguan serta terus bisa memenuhi kebutuhan bisnis yang terus berubah. Dengan mendesain aplikasi sebagai kumpulan layanan yang saling terkait dan tidak terikat, suatu perusahaan bisa memastikan bahwa infrastruktur IT mereka tetap fleksibel, mudah beradaptasi, dan mampu menangani kebutuhan migrasi di masa depan tanpa melakukan upaya format ulang secara signifikan.
Demikian juga, sebelum solusi-solusi yang dibuat khusus, banyak perusahaan bergantung pada penggabungan tools open source dari pihak ketiga yang tersebar untuk membuat dan mengelola kontainerisasi mereka versi sebelumnya. Hal ini membuat aplikasi-aplikasi yang terkontainerisasi secara inheren sulit untuk dikoordinasikan dalam hal update dan migrasi. Saat ini, kami memiliki solusi yang dibuat khusus untuk enterprise dengan tujuan mengkonsolidasikan semua tools open-source yang digunakan untuk membangun aplikasi-aplikasi terkontainerisasi. Hal ini telah menyederhanakan operasional, mobilitas aplikasi, dan tetap mengintegrasikan keamanan dan kepatuhan.
Salah satu pelanggan kami di sektor layanan keuangan, yakni sebuah lembaga layanan keuangan milik negara di Asia Tenggara yang menyediakan layanan seputar perdagangan komoditas, kredit keuangan mikro, layanan pengiriman uang, dan layanan pembayaran online, memberikan contoh dari pendekatan ini. Bank tersebut telah memindahkan lebih dari 100 aplikasi enterpriseke microservices untuk memastikan pelayanan perbankannya memenuhi lanskap IT yang terus berubah, tanpa mengganggu proses kerja dan operasional internal.
Pendekatan strategi IT yang lebih terdistribusi dan modular akan membangun aplikasi yang lebih tangguh, yang lebih mudah untuk dikelola, diterapkan, dan ditingkatkan di seluruh lingkungan hybrid cloud.
Strategi yang Sesuai untuk Masa Depan Kesuksesan Hybrid Multi-cloud
Kesuksesan di masa depan hybrid ini membutuhkan infrastruktur yang cukup fleksibel untuk mendukung berbagai paradigma, baik VM maupun kontainer, seiring dengan perjalanan modernisasi organisasi. Tantangan dan peluang yang sebenarnya terletak pada penerapan strategi yang siap untuk masa depan yang mengintegrasikan migrasi aplikasi, optimalisasi infrastruktur, dan modernisasi aplikasi ke dalam pendekatan IT yang kohesif atau terpadu.
Menanamkan kemampuan kecerdasan buatan sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Dengan demikian, kebutuhan akan fondasi yang fleksibel dan dapat diskalakan telah menjadi hal yang sangat penting sesuai ekspektasi. Beban kerja AI menuntut infrastruktur yang bisa secara efisien menangani beragam kebutuhan komputasi, mulai dari pelatihan model hingga penerapan inferensi. Platform hybrid multi-cloud menawarkan kemampuan dan fleksibilitas yang komprehensif untuk mengakomodasi hal tersebut, selain menyediakan keamanan, pemantauan, dan tata kelola yang konsisten.
Masa depan bisnis akan membutuhkan model IT yang terdistribusi. Hal ini tidak hanya akan mengatasi tantangan teknis yang mendesak, namun yang lebih penting lagi, menempatkan IT sebagai enabler yang strategis untuk kesuksesan bisnis jangka panjang. Dengan memanfaatkan toolsyang khusus dirancang untuk menjembatani kompleksitas tersebut, bisnis dapat membuka potensi penuh dari lingkungan hybrid multi-cloud dan mendapatkan kembali keunggulan kompetitif di dunia yang semakin cepat.
Menanggapi hal ini, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengajukan serangkaian saran strategis kepada pemerintah agar Indonesia bisa menghadapinya dengan lebih efektif. Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menegaskan bahwa isu ini harus disikapi secara terkoordinasi dan kolektif antara pemerintah dan pelaku usaha.
“Dunia usaha telah memantau dengan seksama dinamika kebijakan dagang AS. Kami juga sudah memberikan berbagai pandangan dan menjalin komunikasi erat dengan pemerintah Indonesia, termasuk kementerian dan lembaga terkait,” kata Shinta kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025).
Menurut Shinta, kebijakan tarif tinggi ini tidak hanya menjadi tantangan bagi Indonesia, tetapi juga negara lain yang mengalami surplus perdagangan dengan AS, seperti India, Vietnam, dan Uni Eropa. Oleh karena itu, langkah yang diambil harus mempertimbangkan kepentingan nasional secara menyeluruh.
Langkah-Langkah Strategis
Apindo mengajukan empat langkah utama yang dapat ditempuh pemerintah Indonesia guna merespons kebijakan tarif AS ini.
1. Diplomasi Perdagangan yang Lebih Kuat
Shinta menekankan pentingnya menciptakan kesepakatan bilateral dengan AS untuk memastikan akses pasar yang kompetitif.
“Kami mendorong penciptaan supply chain dengan industri di AS, sehingga ekspor Indonesia ke AS dapat dilihat sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing industri AS, bukan sebagai ancaman,” jelasnya.
Ia pun berharap upaya diplomasi ini mendapat respons positif dari pemerintah AS.
2. Meninjau Ulang Tarif Impor Produk AS
Sebagai bentuk kebijakan timbal balik, Indonesia juga perlu meninjau tarif impor terhadap produk-produk dari AS. “Karena ini merupakan kebijakan resiprokal, Indonesia juga harus memperhatikan tarif impor produk Amerika ke negara kita, termasuk hambatan non-tarifnya,” kata Shinta.
3. Diversifikasi Pasar Ekspor
Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS, Apindo menyarankan agar pemerintah lebih gencar dalam mendiversifikasi tujuan ekspor.
“Kinerja ekspor nasional akan lebih stabil jika kita bisa memanfaatkan berbagai perjanjian dagang seperti Free Trade Agreement (FTA) dan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), serta menyelesaikan negosiasi yang sedang berjalan seperti EU CEPA,” ujarnya.
Negara-negara ASEAN, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika juga disebutnya memiliki potensi besar sebagai pasar alternatif.
4. Revitalisasi Industri dan Deregulasi
Apindo juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dalam memperkuat industri padat karya dan melakukan deregulasi agar produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global.
“Pemerintah perlu mendukung revitalisasi industri padat karya serta melakukan deregulasi agar produk-produk kita lebih bersaing,” imbuh dia.
Lebih lanjut, dunia usaha menyadari kebijakan ini dapat berdampak langsung pada struktur biaya produksi dan daya saing industri dalam negeri. Beberapa sektor yang diprediksi paling terdampak adalah tekstil, alas kaki, furniture, elektronik, batu bara, olahan nikel, dan agribisnis. Untuk menghadapi ini, Apindo akan menyiapkan forum diskusi bagi para pelaku usaha guna menyusun strategi respons yang sesuai.
Selain itu, diplomasi perdagangan dengan AS harus segera dilakukan secara intensif. Shinta juga mengungkapkan, masukan-masukan substansial telah disampaikan kepada pemerintah untuk memperkuat posisi tawar Indonesia.
“Kami mengusulkan pendekatan tematik, seperti kerja sama di sektor energi, mineral kritis, dan farmasi, tanpa harus langsung masuk ke negosiasi FTA yang kompleks,” katanya.
Apindo berharap, dengan kolaborasi erat antara regulator dan pelaku usaha, stabilitas iklim usaha tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Ketahanan ekonomi nasional hanya dapat dipertahankan jika respons terhadap tantangan eksternal dibangun secara kolektif dan terukur,” pungkasnya.
Untuk memastikan keandalan kelistrikan nasional selama lebaran, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, menggelar teleconference bersama seluruh unit PLN se-Indonesia, subholding, dan anak perusahaan, pada Senin (31/3. Dia menegaskan bahwa seluruh personel PLN memberikan perhatian penuh terhadap suplai listrik, terutama saat pelaksanaan Salat Idulfitri.
Langkah ini sejalan dengan arahan Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar layanan kelistrikan tetap optimal sepanjang bulan Ramadan hingga Idulfitri.
“Alhamdulillah, PLN berhasil menjalankan tugas yaitu memastikan sistem kelistrikan di seantero Indonesia andal. Dengan demikian, masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan lancar serta menikmati momen kebersamaan bersama keluarga dalam suasana yang hangat,” ujar Darmawan dalam keterangan resmi, Selasa (1/4/2025).
Darmawan menambahkan bahwa status siaga kelistrikan akan terus berlangsung hingga 11 April 2025 (H+7 Lebaran), seluruh elemen perusahaan berkomitmen menjaga kondisi sistem kelistrikan dalam keadaan prima.
“Seluruh unit PLN telah melaporkan bahwa semua lokasi prioritas terjaga dengan optimal tanpa adanya gangguan kelistrikan. Ini merupakan wujud komitmen PLN dalam memberikan layanan kelistrikan yang andal bagi masyarakat,” tambahnya.
PLN mencatat sebanyak 4.092 lokasi prioritas yang menjadi fokus pengamanan, terdiri dari 2.855 lokasi Salat Id, 722 bandara, terminal, dan pelabuhan, serta 515 pusat kegiatan masyarakat di seluruh Indonesia.
Keandalan pasokan listrik selama perayaan 1 Syawal 1446 H didukung oleh kapasitas daya mampu pasok nasional sebesar 56,13 GigaWatt (GW), sementara beban puncak mencapai 44,62 GW. Dengan demikian, terdapat cadangan daya yang mumpuni yaitu sebesar 11,51 GW.
Untuk menjaga keandalan sistem, PLN mengerahkan personel siaga yang dibekali dengan berbagai peralatan pendukung, antara lain 1.839 unit genset, 636 unit Uninterruptible Power Supply (UPS), 1.276 Unit Gardu Bergerak, 348 truk crane, 4.755 mobil dan 4.250 motor operasional yang disiagakan di berbagai wilayah.
Dalam kesempatan yang sama, General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Rizky Mochamad, menyampaikan pasokan listrik di wilayahnya dalam kondisi aman. Saat pelaksanaan Salat Idulfitri, beban puncak tercatat sebesar 265 MegaWatt (MW), dengan daya mampu pasok sebesar 419 MW, sehingga masih terdapat cadangan daya sebesar 154 MW.
“Kondisi kelistrikan pada malam takbiran dan pelaksanaan Salat Idulfitri dalam kondisi aman. Terdapat 62 posko siaga yang mengamankan suplai kelistrikan pada 150 lokasi prioritas dan semuanya berlangsung dengan aman,” ujar Rizky.
Hal senada disampaikan oleh General Manager PLN Unit Induk Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Kalimantan, Riko Ramadhano Budiawan, bahwa sistem kelistrikan Kalimantan selama masa siaga yang di mulai tanggal 17 Maret 2025 (H-14 Lebaran) hingga saat ini dalam kondisi siap siaga dan tidak terjadi kendala apapun.
“Alhamdulillah kondisi di Kalimantan secara umum dalam menghadapi Lebaran dan Salat Id tadi pagi dalam kondisi aman. Secara cadangan daya di sistem Kalimantan sekitar 800 MW,” ujar Riko.
Sementara itu, General Manager PLN UIP3B Sumatera, Amiruddin menyampaikan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera dibagi menjadi 3 regional, yaitu Sumatera bagian utara, Sumatera bagian tengah, dan Sumatera bagian selatan, seluruhnya dalam kondisi normal.
“Selama masa siaga ini, beban puncak tertinggi diprediksi sebesar 6.142 MW dan ini mengalami kenaikan 7% dibandingkan lebaran tahun lalu. Cadangan (daya) juga sangat mencukupi sekitar 48 sampai 50%,” kata Amiruddin.